“Masa urusan perut kita dijawab dengan pasal-pasal?” celetuk Mohammad Sobari saat memberi orasi kebudayaan dalam acara peringatan mendiang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir, yang bertajuk “2nd Munir Memorial Lecture” di Laboratorium Gedung 9 FIB Universitas Indonesia (UI), Jumat, 5 September 2008.
Menjelang perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-63, 17 Agustus 2008, Banyuwangi kembali dihangatkan oleh dikursus mengenai pahlawan nasional. Untuk sebuah upaya peneguhan identitas dan rasa bangga daerah, Banyuwangi mengusung tiga nama pejuang agar bisa dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Mereka adalah: Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati dan Mas Ayu Wiwit.
Untuk merespon sebuah karya film rendah mutu seperti Fitna dan seorang politikus ambisius yang menjual kebencian demi meraih popularitas, Geert Wilders, tampaknya tak perlu berlebihan. Ucapan Abdullah Haselhoef, seorang imam asal Rotterdam, kiranya cukup menggambarkan: “Jika orang buta mengatakan matahari itu gelap, mengapa kita harus repot?” Cukup di situ. Tak usah lagi memperpanjang mata rantai kebencian.
Geger wacana anti-Islam lewat film Fitna besutan politikus dari golongan ultranasionalis, Geert Wilders, hanyalah isu permukaan. Bentuk Islamophobia yang diperlihatkan sejatinya berakar dari problem multikulturalisme di Belanda, utamanya soal migran. Wilders adalah tipe politisi ekstremis yang bermimpi menutup Belanda dari para pendatang, terutama bagi orang Islam yang ingin berimigrasi ke sana.
Di Banyuwangi berkembang berbagai jenis kesenian tradisional. Ada janger, kuntulan, kundaran, angklung caruk, barong, rengganis, gandrung dan masih banyak yang lain. Di antara sejumlah kesenian tradisional tersebut, gandrung menempati posisi istimewa sekaligus unik dilihat dari dinamika perkembangannya kaitan relasinya dengan negara, agama dan masyarakat.
Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang.
Pasangan Tarman dan Tarsih tidak kuasa menahan tangisnya, sedu sedan mereka pun menjadi perhatian banyak tamu undangan pernikahan Tarmi, anak mereka. Tarman dan Tarsih, yang tinggal di salah satu dusun di Kabupaten Demak, sebelumnya tidak pernah terlintas sekalipun akan bertemu kembali dengan Tarmi. Apalagi bisa menikahkan Tarmi dengan Jasman di bulan panen, Juli ini. Lebih dari dua tahun pasangan Tarman dan Tarsih berserta kakak juga adik Tarmi, tetangga dan sanak keluarga mereka berusaha keras mencari keradaan dan nasib Tarmi di Arab Saudi. Sekedar sms pun tidak kunjung datang dari Tarmi. Tarman dan Tarmi mengenang, "terakhir Tarmi dalam telepon mewanti kami, jangan telpon majikan saya lagi, saya telah pindah majikan!" Dan kepanikan semakin menjadi di benak Tarman sekeluaga, "Tarmi kelihatannya di penjara karena kabur dari majikan, dimana dan berapa lama, saya tidak tahu," ungkap Lastri salah seorang tetangga Tarman yang berada dikota yang sama dengan Tarmi, kota Jizan yang berbatasan dengan Yaman.
Selain tandha, bisa dikatakan tak ada kesenian tradisional lain di Madura di mana perempuan menjadi unsur dominan. Tayub atau tandha satu-satunya seni tari di mana perempuan menjadi penentu dan pencirinya dari awal hingga akhir. Bahkan, penyebutan tandha untuk nama kesenian mengindikasikan hal ini. Istilah tandha lebih merujuk pada penari perempuan. Tapi karena ia menjadi unsur terpenting, kesenian itu sendiri pada akhirnya sering disebut dengan tandha.