Identitas Plural vis a vis Rezim Representasi
2008-06-24
Excerpt Artikel Jurnal Srinthil edisi Jejak Negosiasi Perempuan Aceh
Oleh Irine Hiraswari Gayatri
Kronik identitas perempuan Aceh menurut beberapa literatur memperlihatkan posisi perempuan, dalam identitas mereka yang plural, dikonstruksikan oleh struktur sosial, politik, dan ekonomi tertentu.
Membaca sejarah adalah membaca representasi. Ia, adalah narasi yang direpresentasi melalui sejarawan. Tak beda dengan sejarah perempuan Aceh, yang sebagian besar dinarasikan oleh mereka yang ‘berjarak’ dengan realitas sosial Aceh.
SelengkapnyaPuang Temmi: ":Calabai itu Ketentuan Tuhan"
2008-06-24
Bissu adalah pendeta Bugis Kuno yang ada sejak dahulu kala, bahkan dalam pandangan masyarakat Bugis keberadaannya bersamaan bahkan mendahului dunia ini. Para Bissu inilah yang merupakan pewaris tradisi bugis Kuno sampai sekarang, mereka tetap konsisten menjalankan tradisi itu walaupun berbagai tekanan dan hambatan yang mereka alami. Terkadang mereka dianggap sebagai komunitas sesat dan melakukan ritual setan, terkadang pula mereka dikalaim sebagai kelompok yang tidak ber-Tuhan atau atheis. Keberadaan merekapun yang sebagian besar berasal dari kalangan calabai atau waria membuat tekanan itu semakin keras. Mereka kemudian dianggap sebagai kompok masyarakat yang menyimpang, menyalahi kodrat dan mempunyai kelainan jiwa. Selengkapnya
Sanro: Dialah Penghubung Spritual Itu
2008-06-24
“Di tengah rumah, pas disamping dapur nampak seorang perempuan yang berusia cukup lanjut tengah menyiapkan makanan di atas beberapa piring, sekali-kali perempuan ini nampak berkomat-kamit membacakan sesuatu sebelum akhirnya makanan itu diserahkan kepada beberapa orang (laki-laki dan perempuan) yang setrusnya menghidangkannya berjajar sepanjang ruang tengah dirumah adat tersebut. Setelah semuanya sudah siap perempuan ini kemudian memberikan isyarat bahwa hidangan sudah boleh disantap, maka Puang Tumatoa (pimpinan adat ditempat itu semacam sesepuh) dan Galla (Pelaksana Adat) mempersilahkan orang-orang yang hadir untuk menyantap makanan. Selengkapnya
Fanonisme
2008-06-25
Fanonisme (perhatikan juga Fanonisme kritis) Suatu istilah yang digunakan di dalam tinjauan kaum liberal anti penjajahan atau anti kolonial yang diformulasikan oleh seorang psikiater Martiniquan yang bernama Frantz Fanon (1925-1961). Hasil karyanya di Aljazair telah menuntun dirinya untuk terlibat secara aktif di dalam pergerakan kemerdekaan rakyat Aljazair (Algerian liberation movement) dan juga menerbitkan sejumlah karya fundamental lainnya mengenai rasisme dan kolonialisme. Termasuk di antaranya adalah Black Skin, White Masks (1952, yang diterjemahkan pada tahun 1968), suatu kajian mengenai psikologi rasisme dan dominasi kolonial. Sesaat sebelum kematiannya ia menerbitkan The Wretched of the Earth (1961), suatu kajian yang lebih luas lagi mengenai bagaimana sentiment anti-kolonial mengemban tugas dari dekolonialisasi. Selengkapnya
Fanonisme Kritis
2008-06-25
Fanonisme Kritis. Istilah ini diciptakan oleh Henry Louis Gates Jnr sebagai bentuk keberatan atau ketidaksetujuannya mengenai bagaimana istilah tersebut digunakan secara luas oleh Frantz Fanon tanpa ada perbedaan atau distingsi yang tepat layaknya jimat yang ampuh untuk mewakili semua bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Gates secara khusus keberatan dengan cara bagaimana penggunaan nama Fanon diimplementasikan sebagai totem dan teks untuk kepentingan atau tujuan intelektualitas yang berbeda-beda dan beragam posisi penting yang menentukan dalam pengambilan suatu keputusan untuk mewakili 'perbedaan yang terdapat di dalam suatu revolusi atau pemberontakan…Dunia Ketiga dengan Teorinya sendiri (Third World of Theory itself) (Gates 1991: 467). Dalam prosesnya, spesifikasi individual Fanon digantikan dengan 'figur gabungan, yang disebut sebagai konstruksi etnografis' (459) mengakibatkan jenis kritik tersebut 'membawa Fanon sebagai teoritisi global (global theorists) di dalam kefakuman (in vacuo)'. Selengkapnya
Commonwealth Literature (Kesusastraan Persemakmuran)
2008-06-26
Pemaknaan secara luas Commonwealth Literature adalah karya-karya sastra pada saat bekas pemerintahan Kerajaan Inggris bersama negara-negara persemakmurannya, termasuk Britain. Bagaimana pun juga secara praktis kita dapat memaknainya sebagai susastra atau kesusastraan (yang ditulis dalam bahasa Inggris) negara-negara jajahan, terasuk bekas negara jajahan (termasuk India) dan jajahan Britain, tetapi tidak termasuk kesusatraan Inggris itu sendiri. (Susastra yang ditulis dengan menggunakan bahasa lokal dan dipraktekkan secara oral juga termasuk dalam istilah ini dan istilah ini telah digunakan juga untuk mencakup kesusastraan dari Wales, Scotlandia, dan Irlandia ). Selengkapnya
Pemisah Metonimik
2008-06-27
Metonymic Gap (Pemisah Metonimik). Adalah istilah yang secara argumentatif merupakan bentuk yang paling halus dari pembatalan/pencabutan. Pemisah metonimik adalah pemisah kebudayaan yang terbentuk ketika apropriasi dari bahasa kolonial dimasukkan ke dalam kata-kata, frase-frase, bagian-bagian yang belum diterjemahkan atau diterangkan sebelumnya dari bahasa pertama, konsep-konsep, kiasan, atau referensi-referensi yang tidak diketahui oleh para pembaca. Kata-kata semacam itu menjadi synechdochic (sinekdot) bagi budaya penulis tersebut - suatu bagian yang mewakili keseluruhannya daripada sebagai representasi dunia, layaknya bahasa kolonial. Selengkapnya
Kekerasan Atas Nama Agama
2008-07-02
Oleh Desantara / M KodimBeragama seperti berpijak di dua sisi mata uang. Di sisi pertama, agama diandalkan sebagai basis moral bagi umat manusia. Agama mengejawantahkan manusia untuk hidup rukun, menancapkan pesan ke-Tuhan-an kepada segenap penduduk bumi bahwa setiap perbuatan perusakan dan kezaliman akan diganjar setimpal pada kehidupan lain. Agama dalam dimensi ini, tentu saja, dipenuhi oleh pesan keselamatan (salam) bagi sesama makhluk. Selengkapnya
New Literature (Kesusastraan Baru)
2008-06-30
Istilah ini digunakan sebagai alternative dari 'Kesusastraan Persemakmuran' (Commonwealth LiteratureI) yang kemudian disebut 'Kesusastraan pasca Pejajahan/ post-kolonial' (Post Colonial Literature), khususnya sekitar akhir 1970an dan1980an. 'Kesusastraan Baru' (New Literature) menekankan pentingnya keaslian hasil karya sastra dari kelompok masyarakat masa pasca penjajahan dan
Selengkapnya
Desantara Report on Minority Issues 01 Bahasa Indonesia
2008-06-30
Satu lagi produk media cetak berbentuk newsletter diterbitkan oleh Desantara Foundation a.k.a Desantara Instititue for Cultural Studies yang bermarkas di bilangan Depok Lama, Depok Jawa Barat. Jika kemarin, orang hanya mengenal Desantara dengan Majalah Kebudayan Desantara, Jurnal Perempuan Multikultural Srinthil, Diaspora, Jalang, Syirah dan buku-buku kebudayaan, maka kini lahir Desantara Report on Minority Issues. Newsletter berbahasa Inggris ini merupakan media dwi bulanan yang diterbitkan untuk memotret dan megakomodir isu-isu minoritas di Indonesia dengan segala problematikanya. Isu minoritas cakupannya amat luas dan merambah semua sektor kehidupan (lintas sektoral), tapi, media ini akan lebih memfokuskan diri pada isu kebebasan beragama, komunitas lokal, perempuan, pesantren, dan problem-problem kewarganegaraan. Selengkapnya
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45]


