Identitas Sebagai Proyek Politik
2008-05-23
Pada awal 90-an, seperti pernah ditulis Amrih Widodo (1999), Blora sempat kebingungan untuk merumuskan identitas diri di tengah tuntutan membangun citra daerah yang spesifik. Penelitian, seminar, sarasehan, dan lokakarya diadakan untuk itu. Rekomendasi terpenting dari seluruh aktivitas “ilmiah” tersebut, dan kemudian menjadi keputusan resmi pemerintah setempat adalah ditetapkannya Blora sebagai daerah Samin. Identitas Blora, dengan demikian, adalah Samin.
Selengkapnya
Pak Poyo: Seniman Jaranan Di Tengah Perubahan
2008-05-03
Perawakannya agak kurus dengan postur lumayan tinggi. Nampak peluh masih belum kering membasahi sekujur tubuhnya.
Meski wajah terlihat lelah, Pak Poyo, begitu orang memanggilnya, tersenyum lebar saat Desantara menghampirinya. Pria berumur 70 tahunan itu adalah seniman jaranan yang sehari-hari bekerja mengayuh becak dan mengangkut sampah malam harinya. Siang itu, dia memang baru saja mengantar penumpang yang menjadi langganannya demi upah untuk menyambung hidup keluarganya.
SelengkapnyaJaranan dan Politik Kekuasaan
2008-05-30
Bicara tentang jaranan, dengan seluruh nuansa sosial dan politiknya, kita terpaksa harus menyimpan dalam-dalam sebuah premis lama netralitas estetis seni, yakni seni untuk seni.
Berkesenian bukan sekadar menyajikan suatu tontonan estetis, tapi juga medium ekspresi diri, yang kadang berbaur dengan ekspresi spiritual komunitasnya. Dalam konteks ini maka berkesenian sebenarnya sangat terkait dengan hal-hal yang ekstra estetis seperti lingkungan sosial budaya, bahkan secara tak terhindarkan ekspresi politik komunitasnya.
SelengkapnyaPolitik Pakem Jaran Kepang A la Kota Kediri
2008-05-30
Jaran Kepang, hampir mustahil orang tak mengenal jenis kesenian ini. Di Jawa Timur, jaranan menjadi salah satu kesenian rakyat paling khas. Penampilannya atraktif, ekspresif dan dinamis.
Di berbagai daerah, kesenian jaranan sering disebut dalam banyak nama. Di Ponorogo disebut jathil, di tempat lain senterewe, atau juga dikenal dengan nama jaranan pegon. Penampilan kesenian ini cukup sederhana. Dimainkan oleh 4 sampai 6 orang yang mengapit kuda-kudaan dari anyaman bambu, menari-nari diiringi alunan ketuk kenong, gong gumbeng, kendang dan terompet, dan berujung pada atraksi ndadi atau kesurupan (trance) yang menjadi kekhasan jaranan. Di tengah masyarakat, berbagai atraksi itulah yang menjadikan jaranan sangat populer dan menarik minat banyak penonton.
SelengkapnyaSinkretisme, Sebuah Solusi
2008-01-30
Andrew Beatty, antropolog yang cukup lama melakukan penelitian di Banyuwangi, menyatakan: Kanjeng Nabi Muhammad, leluhur desa, dan lelembut yang mbahurekso desa dikirimi al-Fatihah secara bersama dalam slametan Orang Using Banyuwangi. Lukisan yang lain, seperti dibuat Novi Anoegrajekti, tasbih dan dupa yang mengepulkan asap kemenyan bertaburan bersama dalam kehidupan keagamaan di daerah ujung timur Pulau Jawa itu. Dua lukisan yang menjelaskan tentang sesuatu sekaligus kemampuan Orang Using dan sebagian besar penduduk Banyuwangi mengawinkan Islam dan tradisi lokal.
Selengkapnya
Pancasila Ternodai di Hari Kelahirannya
2008-06-07
Ini adalah untuk kali pertamanya dalam sejarah bangsa kita. Orang-orang yang hendak merayakan lahirnya Pancasila --dasar negara yang sudah dipakai berpuluh-puluh tahun lamanya-- diserang oleh sekelompok massa dari organisasi yang disebut Gus Dur sebagai “organisasi bajingan”.
Minggu siang (1/6) sekitar pukul 13.20 WIB, ratusan massa dengan mengenakan pakian putih-putih dan atribut Front Pembela Islam (FPI) tiba-tiba menyerbu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
AKKBB Desak SBY Bubarkan FPI
2008-06-03
Aksi damai “Satu Indonesia untuk Semua” yang berakhir penuh kekerasan pada 1 Juni 2008 di Monas Jakarta menuai protes dan keprihatinan dari beberapa kalangan. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyanikan (AKKBB) sebagai korban, dalam serangan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI), pun mendesak presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan FPI dan organisasi sejenis. AKKBB mencatat, aksi brutal pada hari peringatan lahirnya Pancasila ini menelan setidaknya 28 orang terluka ringan dan parah.
SelengkapnyaRitual Botor Buyang: Pertaruhan Makna dan Paradoks Kebijakan
2008-06-03
Botor Buyang. Ritual tradisi rakyat ini tiba-tiba menjadi sorotan pejabat. Di mata aparat Botor Buyang adalah sejenis perjudian biasa, sementara dalam kosmologi komunitas Dayak ia juga aspek ritual yang mustahil diabaikan.
Siang itu, di sebuah ruang eksekutif milik Kantor Bupati Kukar, berlangsung pertemuan penting. Dalam dua barisan kursi yang tertata rapi berhadap-hadapan itu, duduk para pejabat pemerintah Muspikab Kukar seperti Wabup H. Samsuri Aspar, Kapolres AKBP Darmawan Sutawijaya, Dandim 0906/TGR Hardani
SelengkapnyaSenimanku Sayang, Senimanku Malang
2008-03-03
“Tak ada itu, tidak ada. Seniman-seniman di sini tak pernah mengecap anggaran kesenian atau kebudayaan.” Kalimat ini meluncur spontan dari bibir Ansar Ropu (70 tahun), seniman tradisi asal Takalar, Sulawesi Selatan, menjawab pertanyaan Desantara seputar alokasi dana pengembangan kebudayaan dalam APBD setempat.
“Kita nggak tahu dana itu ada atau tidak, kalaupun ada sudah pasti tidak pernah sampai ke kita-kita ini,” tandas pria tua berkaca mata ini yang mengaku tak mengerti benar seluk beluk anggaran rakyat ini. Ia pun mengaku sanggar seni Toddopuli yang dikelolanya toh masih tetap eksis meski selama ini tak pernah menerima bantuan dari pemerintah.
SelengkapnyaParadigma Budaya dan Politik Anggaran Kita
2008-03-03
Sejak awal Orde Baru, kebudayaan selalu memperoleh perhatian pemerintah. Bahkan negara menyusun anggaran jutaan rupiah untuk membiayai proyek yang diberi nama revitalisasi kebudayaan ini. Bantuan kebudayaan ini masih tetap bergulir hingga kini. Sayangnya, pemahaman atas paradigma kebudayaan yang keliru membuat politik anggaran terasa ngawur, selain amat minim dan tak menyentuh kepentingan para pelaku budaya.
Tanggal 8 Maret 2007 yang lalu, ketukan palu pimpinan sidang di depan para wakil rakyat yang memenuhi ruangan sidang gedung DPRD Sulawesi-Selatan, menandai pengesahan rancangan APBD periode 2007-2008. Sidang kali ini berjalan aman dan lancar, meski –seperti biasanya– disertai sedikit bumbu-bumbu perdebatan sebelum akhirnya rancangan itu disepakati secara bulat.
Selengkapnya[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45]


